Dari sebuah negeri dingin yang tak terlalu jauh Kawanku bermimpi tentang pelangi Warna-warna yang membusur dari kaki hujan, lalu hilang di peluk langit Dan segalanya menjadi mungkin
Sisa mesiu masih tercium tajam terapung hingga karatan di dalam goa persegi Batuan mengalirkan dongeng pangeran yang dikutuk jadi katak Surau lenyap mengucap doa bersama hutan yang hampir lelap Mata air, pun air mata
Kilatan rumput tepi padang membawa senyum penuh simpul Menanam hidup di relung nafas yang terus tergerak Aku ingat kata lelaki renta pembawa tembang,
“sebelum aku mati. Sekali kuhidup, sekali kumati. Aku dibesarkan di Bumi Pertiwi. Akan kutinggalkan warisan abadi”
Dan sejarah melahirkan mereka, Anak-anak tersisih...[]
Sangat sulit jika ingin mendapatkan tanah lapang yang datar, karena sebagian besar permukaan di Tassese berbentuk bukit-bukit terjal dengan hiasan terasering berbanjar kebawah. Sebagai alasnya, nampak hamparan sawah berair coklat yang siap ditanami. Pilihan Karina untuk lebih banyak di rumah pak Ruddin saat istirahat daripada meng-iya-kan ajakan Pahlawan Ayam, kerena harus menapak tukikkan terjal bukit-bukit Tassese. Sebagai gantinya, Pahlawan Ayam tidak bisa mengatakan “tidak” untuk ajakan menyusuri warung-warung jajanan di Tassese. Ini hiburan baru rombonganku.
Karina adalah volunteers kesebelas yang memilih untuk terlibat dalam mengobati keresahan anak-anak di Tassese. Seperti di ceritakan di awal, Karina suka jika mahluk di sekitarnya mendengar nyanyiannya. Karina dengan beban tubuh yang cukup membuatnya merasa sesak saat berjalan (Maaf aku membanggakan kebesaranmu. Aku hanya ingin mengatakan, “gadis besar, kalian begitu indah!”), lebih suka menempuh jarak yang pendek untuk menikmati jajanan, atau menggunakan kendaraan untuk menuju tempat-tempat kesayangan. Kalaupun harus menempuh jarak yang panjang dengan menyusuri gumpalan tanah menukik, Hanihani harus bersetia mendampingi perjalanannya.
Paragraf di atas untuk Karina yang merasa sedikit rendah karena tulisan pertama. Dengan segala hormat aku ingin mengatakan, bentuk nyata fisik bukanlah sebuah kekurangan hanya karena bentuk yang berbeda dari iklan kecantikan manusia di tv. Kau indah Karina, besar dan indah..
Sekolah tempat Karina mengajar terletak di atas tanah datar yang cukup luas. Mungkin tanah ini satu-satunya tanah datar yang aku temui di Tassese. Sebelum Maret 2007, tanah ini merupakan tanah milik pribadi, sebelum akhirnya tanah ini diambil alih oleh Karaeng Lalang untuk diubah statusnya menjadi Tanah Adat. Karaeng Lalang menukarkan tanahnya yang ada di perbukitan untuk mendapatkan tanah datar tersebut, kemudian menyerahkannya kepada Komite Pembangunan Sekolah untuk dibangun SMP dan tambahan gedung SD Negeri Tassese. Dengan sisa kekuasaan yang ada pada karaeng Lalang karena pernah menjabat sebagai kepala desa di Manuju (Ibu kota kecamatan), tanah yang awalnya milik pribadi dapat dijadikan sebagai Tanah Adat olehnya. Kini tanah datar yang luas tersebut telah menjadi milik seluruh warga desa Tassese.
Di desa Tassese dikenal adanya Tanah Adat, yakni tanah yang tidak dimiliki secara pribadi, namun dikelola oleh pemimpin secara turun temurun. Tanah adat biasanya digunakan untuk lahan pertanian. Hasil dari pertaniannya akan digunakan untuk menjamu tamu-tamu penting (maksudnya dari kalangan pemerintah) dan tamu-tamu dari luar yang datang berkunjung. Atau jika ada acara yang dilakukan oleh warga, bila memungkinkan, maka pemimpin desa akan menyumbangkan hasil pertanian dari tanah adat tersebut kepada warga. Misalnya menyumbangkan 15 liter beras untuk acara pernikahan si A, atau menyumbangkan beberapa sisir buah pisang dalam acara rapat desa. Walaupun tanah adat dikelola secara turun temurun oleh pemimpin di Tassese, namun tanah tersebut tidak dapat dimiliki secara pribadi.
Ada dua jenis Tanah Adat ini yang pertama adalah Tanah Gallarang, dan yang kedua adalah Tanah Sareang. Status sosial seseorang sebenarnya telah mengangkat status sosial orang-orang disekitarnya, bahkan rumah dan tanahnya. Ini bisa dilihat dimana kedua jenis tanah di atas memiliki kelas sosial mengikuti pengelolanya. Tanah Gallarang kelasnya lebih tinggi dan lebih luas jika dibandingkan tanah Sareang. kata “Gallarang” adalah kata untuk menunjuk pada pemimpin pemerintahan di masyarakat (sekarang setingkat Kepala Desa). Tanah Gallarang di Tassese luasnya sekitar satu sampai dengan dua hektar. Perbandingan Tanah Gallarag satu banding seperempat dari Tanah Sareang. Tanah Gallarang lebih luas mengikuti tingkatan sosial pengelolanya. Tanah Sareang lebih kecil kerena pengelolanya memiliki tingkat dalam pemerintahan lebih rendah, yakni Sareang (sekarang setingkat kepala Dusun).
“Tanah Adat bukan milik perorangan, tetapi diserahkan turun temurun kepada pemimpin berikutnya untuk dikelola”, kepala Dusun mencoba menegaskan fungsi Tanah adat. hasil dari tanah Adat pun tidak semata-mata digunakan untuk kepentingan pribadi pimpinan pemerintahan.
***
Jika melihat tekstur tanah serta ketinggiannya, desa Tassese harusnya bisa menanam sayur-sayuran di tanahnya. Namun sangat sulit mendapatkan lahan yang memendam akar-akar sayur. Bahkan sebagian besar penduduk lebih memilih untuk membeli sayur di pasar Bili-bili untuk dikonsumsi, bukan menanamnya sendiri. Pernah bercerita seorang teman dari Tombolo Pao tentang asal mula komoditas sayur pertama kali mulai digemari sebagai tanaman pertanian masyarakat. Menurutnya, awalnya disana sangat mirip di desa Tassese, dimana tanaman sayur kurang populer untuk ditanami. Hingga akhirnya datang seorang insinyur pertanian dari pulau Jawa yang mengajak masyarakat untuk menanam lebih banyak jenis sayur dan buah. Sekarang kita dapat merasakan Tombolo sebagai penghasil sayur-sayuran. Namun kata kuncinya bagi Tassese bukanlah “penghasil”, cukup mandiri dari ketergantungan mengkonsumsi sayur dari luar Tassese. Hasilkan sendiri untuk dinikmati secara mandiri, tanpa harus bergantung pada kota.
Tanah merupakan harta paling berharga bagi sebagian besar masyarakat Tassese. Luas tanah yang dimiliki tiap masyarakat pun beragam, ada yang luas tanahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ada pula yang tanahnya sangat luas seperti Tuan Takur dalam Film Hindi. Karaeng Lalang misalnya, sebagai perintis di Tassese, dia memiliki tanah yang lebih luas jika dibandingkan dengan masyarakat lain. Namun keluasan tanah turut melapangkan kearifan pula untuk saling memberi. Dengan sukarela, karaeng Lalang menukarkan tanahnya untuk dijadikan tanah adat dalam pembangunan sekolah. Kini sekolah bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Tassese hingga sekarang.[]
Saat hujan pertama turun setelah kemarau panjang, sebagian anak buah Tuan Takur tidak sedang membayangkan keindahan air. Air yang terus memantulkan cahaya kecil dari matahari terselip sekapas awan. Air yang akan membanjiri dahaga petani kerena sejak enam bulan lalu sawah begitu menyesakkan nafas kerjanya. Air kemudian akan meresapi tanah, terus menyusupi serat akar tanaman. Aku ulangi, tidak semua anak buah Tuan Takur sedang membayangkan keindahan air yang terjun lepas dari pohon langit.
Sebagian itu sedang menghidu wangi tanah, juga aku. Wangi yang hanya mampu memanjakan indera hidung saat hujan pertama turun. Tanah bukan hanya dekat dengan kakiku yang rendah tertunduk, bahkan hidungku yang pesek, namun tetap menyombongkan keistimewaannya. Saat tubuh terjatuh oleh gundukan tanah kecil pun, aku masih begitu merendahkan tanah dengan menjauhkannya dari tubuh. Menggunakan tangan, untuk membersihkan tanah yang kuanggap kotoran bagi tubuhku. Apakah benar aku berasal dari tanah hingga begitu terasa jauh dari tanah?
Saat hidup aku membutuhkan tanah untuk berpijak, membuat rumah, bahkan menanami tumbuhan dan memelihara hewan untuk memenuhi kekosongan isi perutku jika aku lapar. Kelak, anakku juga akan seperti aku, membutuhkan banyak tanah untuk cucuku. Nanti, saat aku mati di tengah-tengah keluarga besarku, aku masih juga membutuhkan tanah untuk menyembunyikan tubuhku yang pernah merasa kotor dan menjauhi tanah.
Di sebuah tanah tidak bertuan (yang dulu bertuan), hadirlah seorang gadis cantik yang bertubuh gempal besar. Dengan menyebut satu kalimat saja, orang-orang yang pernah mengenalnya akan segera tahu itu adalah dia. Lagu Hindi. Bukan aku tidak menghendaki untuk menceritakan secara sempurna tokoh gadis ini, hanya saja sudah cukup jelas lagu Hindi akan membedakannya dari semua volunteers yang pernah mengajar di Tassese.
Pertemuan pertama Karina dengan anak-anak di Tassese adalah awal musim penghujan 2009. Dihadapan anak-anak, Karina dengan riangnya menyanyikan lagu kesayangannya. Lagu yang awalnya tidak berbekas dalam pengalaman anak-anak. Tetapi kini tidak lagi, karena lantun suara Karina yang menghibur di selah-selah proses berpengetahuan, menyisakan pengalaman unik diri Karina di hati anak-anak.
Dalam film-film Bollywood, ada beberapa kategori yang akan menghiasi ceritanya, bahkan sebuah keharusan untuk ada. Pertama adalah tarian. Tarian adalah ekspresi berwujud gerak, hasil interpretasi manusia atas alam yang terus berubah dari titik awalnya. Kedua adalah nyanyian. Begitu banyak koleksi suara yang pernah menimpali telinga manusia. Bahkan bunyi alam pun memiliki keteraturan nada yang indah. Nyanyian adalah keteraturan yang direproduksi manusia-manusia untuk saling berseni dalam komunikasinya. Ketiga adalah Tuan Takur. Tuan kejam yang memiliki tanah yang sangat luas. Entah bagaimana cerita awalnya, hingga aku akan menyebut kalimat “Tuan Takur” untuk menujuk pemilik tanah yang lebih luas dari orang-orang yang ada disekitarnya.[]
Sebelumnya telah kuceritakan tentang Pahlawan Ayam, dan mengapa istilah tersebut lahir. Walaupun masih ada beberapa pembaca yang menyangkal objek sebenarnya. Dalam tulisan ini akan menceritakan tentang sejarah orang biasa. Mungkin akan dibahas terlebih dahulu apa ide besar sejarah orang biasa yang dimaksud. Sejarah orang biasa telah populer di Indonesia, jauh sebelum aku mengenalnya lewat tulisan Bambang Purwanto, seorang dosen sejarah “biasa” di UGM. Menurutnya, sejarah bangsa ini selain ditulis oleh dominasi laki-laki, juga militer. Militer disini pun ditentukan lagi siapa yang pantas untuk dituliskan dalam sejarahnya, baik peristiwa, aktor, maupun ideologi yang menjadi pondasi sejarah tersebut. Peristiwanya yah pasti tentang kejadian luar biasa seperti perang, kudeta berdarah, pemilu, dan peristiwa sosial politik besar lainnya. Kemudian peristiwa tersebut harus berhubungan dengan aktor terkenal, tokoh nasional, pemimpin perang, para jenderal dan tokoh besar lainnya, tidak dengan orang-orang kecil seperti petani, guru, murid dan lain-lain. Peristiwa yang dijadikan sejarah selanjutnya dibingkai dalam sebuah nilai untuk menanamkan kepercayaan mendalam, agar seluruh pembaca sejarah patuh pada pembuat sejarah. Semboyannya pasti, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai penguasa (penulis sejarah tunggal) dan sejarah tunggalnya”. Seperti inilah gambaran sejarah Indonesia dituliskan saat rezim militer kuat.
Mari kita telaah lebih “nakal”. Sejak sekolah, buku sejarah harus dicetak massal dan seragam dibawah kontrol Jaksa Agung. Sejarah yang bertentangan dengan kepentingan penguasa dilarang beredar dan jika ketahuan akan dibakar. Jadi tidak ada sejarah alternatif. Tidak heran jika sebagian besar buku-buku Pramodya Ananta Tour lebih banyak di pemanggangan api daripada di perpustakan. Mungkin karena Pramudya bukan penguasa dan tidak ikut perang melawan PKI saat itu. Aku juga tertarik dengan tulisan Nurhady Sirimorok di media elektronik Panyingkul. Dia berpendapat sejarah Indonesi lebih didominasi oleh peristiwa-peristiwa kejayaan pertempuran, dimana militer adalah pahlawan besarnya. Kemudian menanyakan dengan sangat kritis tentang, bagimana posisi pekerja medis dan tukang masak yang sebagian besar adalah perempuan dalam sejarah tersebut? Kenapa nama mereka tidak turut menghiasi kegemerlapan kemenangan perang merebut kemerdekaan? Apakah perang bisa dimenangkan jika tentara-tentara itu kelaparan? Siapa yang merawat mereka saat terluka? Mengapa kesaksian mereka tidak dijadikan sebagai referensi sejarah yang kelak akan dibaca oleh anak cucunya? Kalau kuantitas jenis kelamin laki-laki dalam daftar pahlawan nasional, tidak perlu dibahas lagi, sudah jelas siapa yang menulis sejarah ini. Setelah tahu, apa yang harus kita lakukan?
Sejarah penguasa dapat membangun kepercayaan di kepala khalayak bukan hanya karena penguasa semakin kuat, tetapi sipil yang semkin lemah untuk menghadirkan sejarahnya dalam versi lain. Kemampuan menuliskan sejarah orang biasa oleh orang biasa bukanlah bakat atau keahlian khusus. Ketekunan menelorkan wacana alternatif kepada khalayak adalah amunisi yang baik untuk melawan dominasi tersebut. Mulailah dengan mengumpulkan serpihan-serpihan cerita masyarakat, misalnya yang paling dekat, nenek, mbah atau datuk. Kemudian nenek tetangga dan seterusnya, dengan merujuk waktu masa hidup mereka. Sejarah lisan adalah salah satu tools yang dapat digunakan. Dengan model ini, kita dapat mendengar pengalaman sejarah orang biasa dari tangan kedua pengalaman, misalnya orang tuanya nenek kita. Jika nenek kita lahir tahun 1940-an, maka kita dapat mendengar kejadian tahun 1920-an dari nenek kita. Terbayang tidak mendengar sejarah tempat kita dahulu, di tahun 1920-an, padahal rencana reproduksi ari-ari nenek kita pun belum ada. Lebih teknisnya, suruh saja nenek cerita, kemudian direkam dan buat transkripsi wawancaranya. Setelah itu, tuliskan dan jangan lupa kolaborasi dengan buku bacaan yang tidak perlu rumit untuk dimengerti. Perlu aku ingatkan, bahwa tulisan ini bukan sedang membahas teknik penelitian, hanya ingin memberi gambaran tentang sejarah orang biasa, yang ditulis sebagai counter wacana dominan penguasa.
Baiklah, akan kumulai ceritanya dengan pagi ini. Umur pagi jika dibandingkan dengan umurku, jelas aku jauh lebih muda. Hanya saja, para guru dari Universitas Indonesia Timur dan aku sempat menjadi tua karena menunggu pemandu jalan. Yah, pemandu ini punya tugas baru, yakni mengambil bantuan bahan pangan untuk kami selama di desa Tassese, sumbangan dari organisasi pedagang pasar Terong, SADAR (Persaudaraan Pedagang Pasar Terong). Seperti biasa, perjalanan dimulai dengan saling menunggu, terutama saat pengisian bahan bakar kendaraan. Konsekuensi keterlmbatan berangkat adalah berkurangnya waktu mengajar guru-guru ini di SMPN 3 Tassese. Sekolah ini memiliki tiga kelas, dan belum memiliki alumni seorangpun. Wajar saja, karena sekolah ini baru ada setelah menerima hutang luar negeri dari tetangganya tahun 2007 lalu. Murid-murid memang telah menikmati gedung yang layak, bahkan sangat indah untuk ukuran “sekolah kampung” (maaf menggunakan istilah “sekolah kampung”, karena sangat sulit mendapatkan padanannya saat penulisan), namun tidak dengan gurunya. Itulah alasan perjalanan kami ke Tassese.
Dua minggu lalu, Pahlawan Ayam begitu terkejut merasakan jauhnya perjalanan murid-murid untuk menduduki kursi santainya di sekolah. Pahlawan Ayam berserta Peri Pengetahuan mengikuti murid-murid menuju perjalanan pulang untuk merasakan langsung semangatnya. Berbeda dengan hari ini, kami yang dijanjikan akan mencoba merasakan semangat dari perjalanan guru menuju sekolah. Kini, giliran rumah Ibu Sartika menjadi tujuannya. Aku, pahlawan ayam dan empat orang guru tahu bahwa langit telah sangat gelap. Sesaat lagi hujan pasti akan turun. Keinginan melihat Lubang (penamaan untuk sebuah gua buatan manusia oleh penduduk setempat) adalah dorongan paling kuat untuk mengindahkan mendung. Walhasil, belum sampai setengah perjalanan, kami harus basah oleh hujan, tanpa ada satupun tempat berteduh di sepanjangnya. Kami belum saling mengenal sebelumnya, kecuali aku dan Pahlawan Ayam. Di sepnjang perjalnan itulah kami mulai mengenal. Baiklah, akan aku perkenalkan satu persatu guru-guru ini.
Guru pertama aku namakan saja Al Mubarokah. Dia adalah seorang perempuan berambut ikal, dengan bandol separuh – sebenarnya telah rusak karena patah, bukan bentuk sebenarnya yang separuh – yang digunakan untuk menahan kerapihan rambutnya. Ada tiga hal yang kuketahui sebelumnya dari dia. Pertama, niatnya untuk ikut kerena prihatin mendengar kondisi sekolah melalui seorang teman. Kedua adalah namanya. Aku tahu namanya dua hari sebelum keberangkatan. Dan yang terakhir adalah, dia mudah terkejut seraya mengucapkan apa saja diluar kendali (latah). Al Mubarokah adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Di sangat suka perjalanan yang melibatkan indranya secara langsung, terutama indra penglihatan. Ini bisa dilihat dari kesigapannya saat sesi pemotretan bersama, bahkan sendiri sekalipun. Yang paling mencolok dari perempuan ini adalah kata “Sumpah” yang kerap hadir ketika dia berusaha meyakinkan lawan bicaranya.
Guru kedua adalah teman lama Al Mubarokah, Al Ikhlas. Dia adalah laki-laki bertubuh mungil (dia suka dengan penggunaan mungil daripada kecil karena terdengar lebih manis) dengan rambut depan yang kerap menutupi sebagin tengkorak depan kepala. Al Ikhlas adalah teman kecil Al Mubarokh sejak mereka diimunisasi oleh orang tua mereka. Aku menyaksikan begitu hati-hatinya Al Ikhlas menjaga Al Mubarokah selama perjalanan. Pengawasan yang begitu ketat, hingga aku begitu yakin mereka benar-benar telah berteman sejak kecil. Pertama kali melihat dia, ke-diam-an adalah konsep yang melekat pada Al Ikhlas, namun tidak setelah mengenalnya lebih jauh. Dia adalah laki-laki yang cerewet, dengan banyak koleksi lelucon yang mencairkan suasana kaku kami selama perjalanan.
Guru ketiga bernama Al Akshom. Ibunya adalah seorang bidan. Dia berasal dari sebuah desa terpencil di Pinrang, desa Ulu Saddang. Tubuhnya cukup ideal dengan tinggi normal untuk laki-laki dewasa. Aku pernah kedesanya di Pinrang beberapa bulan lalu. Di sekolah desanya juga mengalami nasib yang hampir sama dengan yang terjadi pada sekolah di Tassese. Dia memilih untuk keluar dari desa Ulu Saddang bersama orang tuanya setelah menetap selama lima tahun disana. Tidak banyak yang aku ketahui dari sikap diamnya. Tapi tetap saja diam itu harus bersaing dengan bahasa non verbalnya saat sesi pemotretan.
Guru keempat adalah Baiturrahman. Jika pernah sekali melihatnya, pertemuan kedua pasti bisa langsung membedakannya dari tiga guru sebelumnya. Kata kuncinya adalah “Rambut”. Rambutnya begitu khas, karena ikal rambutnya dibiarkan tergerai ke atas (tanpa sedikitpun bermaksud mendiskreditkan fisik). Dari rambut inilah kemudian Baiturrahmn sangat disukai oleh murid-murid kelas II. Suatu kali seorang murid bernyanyi dengan melafazkan namanya dengn merdu. Murid tersebut tidak sabar untuk diajar olehnya, saat dia sedang menyampaikan materinya di kelas III. Dengan suara serek-serek, menambah ketampanan Baiturahman di mata dan hati murid-murid kelas II.
Seperti diceritakan di awal, hujan menyertai perjalanan kami menuju rumah ibu Sartika. Hutan begitu rimbun dengan semak, karena sejak beberapa minggu lalu musim hujan membasahi hutan. Jalan yang licin menggesek serat-serat alas kaki kami. Lumpur dengan mudah menempeli permukaan alas kaki, sehingga langkah kami diperberat olehnya. Penujuk separuh jalan kami adalah Pahlawan Ayam. Kemudian digantikan oleh seorang petani yang kami temui di tengah perjalanan. Petani itu bersama istri dan anaknya sedang mencangkuli sawah yang mulai becek oleh hujan. Pahlawan Ayam digantikan oleh petani itu, karena Pahlawan Ayam lupa jalan menuju rumah Ibu Sartika. Setelah menempuh perjalanan panjang menyusuri hutan liar, kami beristirahat sejenak sambil mendengarkan arahan ibu Sartika tentang Lubang yang akan kami datangi. Kemudian kami dibuatkan obor dari sebatang bambu kecil berisikan minyak tanah, dengan sumbu dari serabut kelapa. Katanya, kami memerlukan ini untuk masuk kedalam Lubang, karena disana sangat gelap. Tidak jarang, kami akan menemukan beberapa jenis binatang berbahaya seperti ular, babi hutan dan binatang lainnya.
Lubang terletak di puncak bukit yang tinggi. Jika berdiri di atas sana, maka nampak kota Makassar dan pantai Losari oleh mata. Setelah sekejap menikmati pemandangan dari ketinggian, kami memasuki bagian inti perjalanan, menelusuri gelapnya Lubang. Menurut Pak Lawang, Lubang merupkan tempat persembunyian bagi pemberontak DI/TII dari kejaran tentara pemerintah. Namun Lubang ini telah ada sejak masuknya tentara Dai Nippon Jepang. Mereka membuat banyak Lubang di Tassese untuk menahan serangan sekutu pada masa Perang Dunia II yang berakhir dengan kekalahan Jepang setelah dua kota utamanya dihancurkan oleh sekutu dengan Bom Atom. Namun hanya beberapa yang masih tersisa, karena tidak mmpu lagi menahan serapan air hujan. Lorong di dalamnya saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Selain gelap, yang pertama kami temui saat masuk adalah segerombolan burung walet (yang awalnya aku kira itu kelelawar) berhamburan keluar karena merasa terganggu oleh kehadiran kami. Dua orang anak-anak yang menyertai perjalanan kami menuju lubang, begitu riang mengusir burung-burung dengan ranting pohon, sementara dua anak yang lebih besar lainnya tetap terjaga mengawasi keselamatan kami.
Tentu saja Jepang menempatkan Lubang pertahnannya di Tassese, karena letaknya yang tinggi, sehingga mudah dalam mengawasi pergerakan musuh. Bukan hanya jepang, DI/TII pun turut memanfaatkan ketinggian dalam bertahan sekaligus memantau musuh-musuhnya. Aku bisa membayangkannya saat berada di dalam salah satu mulut Lubang – tempat meletakkn senapan mesin – begitu srategisnya letak bukit ini sebagai tempat pertahanan saat perang. Sekarang, Lubang ini bukan lagi tempat bertahan atau berlindung, karena perang telah berakhir. Sekarang telah disulap oleh anak-anak Tassese sebagai tempat bermain mereka.
Pak Ruddin kemudian mempertegas pernyataan pak Lawang terkait asal mula adanya Lubang ini. “Itu Lubang tentara Nipong kami menyebutnya, karena dulu orang tua saya bercerita seperti itu”, ucap pak Ruddin dengan dialek Makassarnya. Inilah serpihan sejarah besar Tassese yang tidak sempat dituliskan oleh penguasa, karena Tassese bagi penguasa bukanlah tempat penting seperti ibu kota. Tetapi bagi pak Ruddin dan masyarakat Tassese lainnya, Tassese adalah tanah kelahiran mereka yang dianggap tidak kalah pentingnya dari ibu kota.
Sepulang dari Lubang, kami disambut dengan hidangan istimewa oleh ibu Sartika dan secangkir teh dan kopi hangat. Setelah cukup istirahat, kami kembali ke rumah pak Ruddin, karena besok harus kembali mengajar. Sasaran utama setelah tiba adalah mencuci pakaian basah kami, karena sebagian dari kami tidak membawa persediaan pakaian yang cukup.
Seperti hari-hari awal para guru (volunteers) mengajar, murid-murid tetap bersemangat mengikuti pelajaran. Para gurupun sejak awal telah menyiapkan pembagian kerja, siapa yang mengjar di kelas I, siapa di kelas II dan siapa di kelas III. Saat jam istirahat, beberapa murid menawarkan kepada kami untuk mengunjungi air terun yang ada di Tassese sebelum kami pulang sore ini. setelah makan siang, mereka langsung mendatangi tempat istirahat kami, seolah tangan-tangan ini ditarik lembut untuk segera berkemas mengikuti mereka ke tempat kesayangan. Air terjun adalah pertemuan penutup perjalnan minggu ini, dan segera menyempatkan untuk berfoto bersama dengan anak-anak murid. Al Ikhlas telah duduk di atas kendaraannya sambil berucap, “Tidak sabar menunggu minggu depan. Pokoknya harus kembali ketempat ini!” seiring laju kendaraan kami meningglkan Tassese.[]
Tahun 2009, di sebuah negeri bernama Nusantara, berkendara seorang Pahlawan Ayam bersama seorang ajudan dan dua orang temannya menuju desa Tassese. Dua orang temannya adalah Peri Pengetahuan yang bertugas menyampaikan pesan kepada anak-anak di desa Tassese, bahwa akan hadir serombongan Guru. Kelak Guru-guru itu akan menghilangkan keresahan anak-anak yang sulit memahami pelajaran di sekolahnya. Beberapa tahun terakhir, di desa Tassese sangat kesulitan memperoleh guru yang dipercaya akan menyelamatkan mereka dari monster yang bernama “Standar Kelulusan Penguasa”.
Sebenarnya tidak sedang meninggikan jenis kelamin laki-laki karena menyebutnya sebagai pahlawan, hanya saja istilah “pahlawan” sudah terlanjur identik dengan laki-laki yang membawa senjata. Tapi, pahlawan dalam cerita ini, tidak seperti pahlawan di buku-buku sejarah anak-anak Orde Baru – sedang meminjam istilahnya Mas Putut EA sebenarnya – tetapi istilah yang muncul dari pemberontakan atas sakralisme istilah “Pahlawan”. Pahlawan Ayam dengan rambut halus terurai seperti berusaha menyelipkan mata bola Pahlawan. Untuk laki-laki seumurannya, Pahlawan Ayam bertubuh tegap dan berisi, dengan sedikit lekukan otot di beberapa bagian. Karena begitu menyukai sepak bola, otot betis dan paha sang pahlawan lebih dominan jika dibandingkan dengan otot yang lain. Jika coba menjelajahi bentuk fisik lain dengan mata manusia yang serba kekurangan, punggung Pahlawan cukup lebar saat dia berdiri, sebanding dengan bidang dada yang luas. Buah kecut bernama Mangga, tidak mampu membuat wajah Pahlawan Ayam terserut kecut saat dia melahapnya. Mangga kecut ini yang kelak akan membuat Pahlawan duduk semeja dengan Peri Pengetahuan, untuk bersama menikmati kasarnya permukaan lidah dan kenikmatan rasa.
Kurang lebih 40 kilometer perjalanan menuju desa Tassese, menawarkan dualisme alam, yakni alam yang indah dan alam yang menyiksa. Setengah dari perjalanan Pahlawan Ayam hari itu adalah ekspresi kerusakan alam. Pahlawan harus bertempur melawan debu dan pasir yang terus menabrak wajahnya. Udara segar terkalahkan dengan asap yang berebut keluar dari pembuangan asap kendaraan pembawa batu dan pasir gunung. Setengah perjalanan akhir, udara pegunungan yang asri baru terasa. Udara terus membisikkan kepada Pahlawan Ayam dengan sebuah kalimat, “Selamat Datang di Negeri Tersisih, Karena Kami Hanya Sedikit Risih, dan Izinkan kami Menyekah Kotoran di Pipi”. Dengan lembut Pahlawan Ayam membuka penutup wajahnya dan menarik dalam-dalam udara untuk mengizinkannya menyentuh organ tervital bersama darahnya. Mata Pahlawan Ayam terus seirama bersama kedua Perinya, mengikuti tiap kelokan jalan yang rumit. Tangan pun mengikuti perintah mata, kapan harus mebelok ke kiri atau ke kanan. Jari-jari Pahlawan Ayam dengan lembut memeluk setir kendaraan dan melaju menyusuri desa Tassese.
Sepertinya sang Pahlawan begitu populis di kalangan warga – bahkan saat Pahlawan belum mengetahuinya – hingga hampir semua orang di desa itu menanyakan, “Oh, ini dia peri pengetahuan, yang akan membawa penghilang resah untuk anak-anak kami?” wajah Peri-peri memerah, begitu juga Pahlawan Ayam seiring mereka mempercepat laju kendaraan karena malu.
***
Kerajaan anak-anak itu adalah sehamparan tanah luas dengan karpet hijau tempat bermainnya. Di sisi belakang kerajaan terdapat bukit yang jika kita mendakinya akan nampak desa seberang. Jika dibandingkan dengan desa Tassese, desa seberang lebih maju. Di desa seberang lebih diminati bagi penikmat alam untuk mengunjunginya. Di desa seberang juga terdapat sebuah kerajaan yang memiliki guru-guru lebih banyak, sehingga anak-anak di sana tidak pernah lagi mengenal keresahan di hidupnya. Sangat berbeda dengan desa Tassese yang merindukan Guru.
Hari ini hanya ada dua Peri Pengetahuan yang ikut bersama Pahlawan Ayam dan seorang ajudan yang kerap membawa pusaka pelindung dingin, Minyak Kayu Putih. Sebelum aku ceritakan tentang peri pengetahuan dan Guru-guru yang kelak akan dibawa oleh Pahlawan Ayam, aku ingin mengenalkan terlebih dahulu ajudannya. Seorang laki-laki bertubuh mungil dengan berat 40 kilogram yang setia menjadi teman kebanggaan bagi Pahlawan Ayam, terutama dalam ekspedisi di desa Tassese ini. Jika melihat adjudan Pahlawan Ayam, ukuran kepalanya cukup besar – walaupun tidak ada hubungan antara kecerdasan dengan ukuran otak yang besar dalam kasus lain – berisikan banyak sel-sel otak luar biasa. Kecerdasan yang dimilikinya, mengharuskan tukar pendapat bersama Pahlawan Ayam berlangsung panjang. Dengan Jupiter warna biru tua tajamnya yang nampak indah sebelum menggunakan kaca spion, tunggangan itu kerap mendapat pujian dari pemilik. Tubuh kecilnya telah mengisyaratkan pada ajudan untuk menggunakan pakaian yang seukuran dengan tubuhnya, hingga nampak tipis tanpa ada lagi lekukan otot. Itu saja tentang ajudan, selebihnya akan lebih menarik mengenalnya dari ekspedisi Tassese ini (istilah “ekspedisi” dipinjam dari “28”).
Seperti yang diceritan di awal, ada dua Peri Pengetahuan yang menyertai Pahlawan Ayam. Aku ceritakan dulu yang pertama. Sebenarnya berat mengenalkan Peri Pertama dari tampakan fisik, karena dia begitu khas dan bisa langsung dikenali, dengan kata kunci tinggi badan. Peri Pertama dulu juga adalah seorang guru sehari bagi Pahlawan Ayam yang sama gelisahnya dengan anak-anak Tassese. Kini mereka berdua bersama-sama harus mengerjakan tugas sosial. Dengan kacamata yang digunakannya, Peri Pertama terlihat lembut dan ramah, sebaliknya Peri Pertama akan nampak mengerikan jika melepaskannya. Apakah karena tidak terbiasa melihatnya seperti itu, atau mata lelahnya menampakkan keseriusan berfikir. Tapi untunglah ada Pahlawan Ayam dan Ajudan yang kerap bergurau untuk menghibur Peri-peri Pengetahuan.
Peri Kedua adalah tokoh baru dalam hidup Pahlawan Ayam. Di adalah kerabat dari Peri Pertama. Peri Kedua ini kini begitu identik dengan binatang Ayam. Dia begitu trauma dengan binatang ini, mendekati Ayam saja dia enggan, apalagi harus bersentuhan langsung. Keseriusannya dengan rasa takut begitu nampak dari cerita pengalaman buruknya tentang binatang Ayam. Begini Peri Kedua bercerita, “Dulu saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya punya pengalaman buruk dengan Ayam. Di rumah kakek, garasinya digunakan sebagai tempat ternak ayam. Di sebuah kardus yang di atasnya terdapat sebuah lampu untuk menghangatkan anak ayam, saya mencoba menyentuh anak ayam yang terlihat lucu. Kemudian, kejadian burukpun terjadi. Anak ayam tersebut mematuk tangan saya. Sejak saat itulah saya tidak lagi berani untuk mendekati ayam. Sekarang, jika saya mengunjungi rumah kakek, saya tidak lagi mau untuk memasuki garasi kakek. Bahkan saat saya datang, pintu garasi akan ditutup rapat, tidak seperti dulu dimana ayam kakek dapat berkeliaran kemana saja saat ada saya.” Itulah sepenggal pengalaman buruk Peri Kedua tentang ayam. Kini, bertambahlah tugas Pahlawan Ayam, melindungi Peri Kedua dari gangguan Ayam. Sejak tugas itu diemban oleh Pahlawan Ayam, sejak itu pula gelar Pahlawan Ayam digunakan bagi pengantar Peri Kedua saat mengunjungi desa Tassese.
***
Pembagian guru yang tidak merata di seluruh Nusantara oleh Penguasa, menjadikan keresahan yang mendalam bagi anak-anak Tassese (sebenarnya sedang mempertegas kembali cerita di atas). Kemudian penguasa menentukan anak-anak mana yang pantas melanjutkan cita-cita menurut standar yang ada di kepala penguasa. Nah, standar ini tidak diimbangi dengan pengadaan guru untuk anak-anak di desa. Guru lebih banyak dimiliki oleh anak-anak kota. Ini pula yang sempat membuat resah Kristiono dan teman-temannya, dari kerajaan lain. Beberapa tahun lalu, Kritiono melakukan yang namanya Gugatan Warga Negara (citizen lawsuit) terhadap pelaksanaan ujian bagi seluruh anak-anak nusantara, dengan standar penguasa sebagai patokan kelulusannya. Watak keras penguasa untuk tetap melakukan ujian cukup membuat kecewa banyak anak-anak. Tahun 2008 dan 2009, pemaksaan kehendak penguasa ini berwujud dengan dilaksanakannya “ujian paksa” (yang tidak dikehendaki murid dan guru karena merasa perlakuan pemerinth terhadap mereka belum adil dalam hal distribusi sumberdaya guru, infrastruktur, menejemen pengelolaan serta akses informasi dan buku).
Tujuan awal Pahlawan Ayam, Peri-peri Pengetahuan serta Guru-guru adalah untuk membantu anak-anak desa Tassese untuk keluar dari keresahannya. Keresahan dalam menghadapi standarisasi kecerdasan penguasa. Setelah kejadian pelarangan melakukan ujian diterapkan, hadir masalah baru. Apakah para Guru akan tetap dengan semangat lamanya untuk menutupi keresahan yang telah hilang sebelum mereka menghilangkan keresahan itu? Apakah anak-anak desa Tassese tidak pantas menerima pengetahuan dari Guru-guru yang dibawa oleh Pahlawan Ayam dan teman-temannya? Berita kemenangan Kristiono dalam melawan penguasa adalah kabar baik sekaligus kabar buruk, yang semoga tidak benar-benar menjadi buruk.[]