Slideshow

Volunteers

Advertisement (468 x 60px )

Latest News

Sample Widget

Selasa, 26 Januari 2010

Untukmu Terkasih


Dari sebuah negeri dingin yang tak terlalu jauh
Kawanku bermimpi tentang pelangi
Warna-warna yang membusur dari kaki hujan, lalu hilang di peluk langit
Dan segalanya menjadi mungkin

Sisa mesiu masih tercium tajam terapung hingga karatan di dalam goa persegi
Batuan mengalirkan dongeng pangeran yang dikutuk jadi katak
Surau lenyap mengucap doa bersama hutan yang hampir lelap
Mata air, pun air mata

Kilatan rumput tepi padang membawa senyum penuh simpul
Menanam hidup di relung nafas yang terus tergerak
Aku ingat kata lelaki renta pembawa tembang,

“sebelum aku mati. Sekali kuhidup, sekali kumati. Aku dibesarkan di Bumi Pertiwi. Akan kutinggalkan warisan abadi”

Dan sejarah melahirkan mereka,
Anak-anak tersisih...[]

Oleh Randi Akbar

Senin, 25 Januari 2010

Tuan Takur dan Tanah Adat Tassese (2)

Sangat sulit jika ingin mendapatkan tanah lapang yang datar, karena sebagian besar permukaan di Tassese berbentuk bukit-bukit terjal dengan hiasan terasering berbanjar kebawah. Sebagai alasnya, nampak hamparan sawah berair coklat yang siap ditanami. Pilihan Karina untuk lebih banyak di rumah pak Ruddin saat istirahat daripada meng-iya-kan ajakan Pahlawan Ayam, kerena harus menapak tukikkan terjal bukit-bukit Tassese. Sebagai gantinya, Pahlawan Ayam tidak bisa mengatakan “tidak” untuk ajakan menyusuri warung-warung jajanan di Tassese. Ini hiburan baru rombonganku.

Karina adalah volunteers kesebelas yang memilih untuk terlibat dalam mengobati keresahan anak-anak di Tassese. Seperti di ceritakan di awal, Karina suka jika mahluk di sekitarnya mendengar nyanyiannya. Karina dengan beban tubuh yang cukup membuatnya merasa sesak saat berjalan (Maaf aku membanggakan kebesaranmu. Aku hanya ingin mengatakan, “gadis besar, kalian begitu indah!”), lebih suka menempuh jarak yang pendek untuk menikmati jajanan, atau menggunakan kendaraan untuk menuju tempat-tempat kesayangan. Kalaupun harus menempuh jarak yang panjang dengan menyusuri gumpalan tanah menukik, Hanihani harus bersetia mendampingi perjalanannya.

Paragraf di atas untuk Karina yang merasa sedikit rendah karena tulisan pertama. Dengan segala hormat aku ingin mengatakan, bentuk nyata fisik bukanlah sebuah kekurangan hanya karena bentuk yang berbeda dari iklan kecantikan manusia di tv. Kau indah Karina, besar dan indah..

Sekolah tempat Karina mengajar terletak di atas tanah datar yang cukup luas. Mungkin tanah ini satu-satunya tanah datar yang aku temui di Tassese. Sebelum Maret 2007, tanah ini merupakan tanah milik pribadi, sebelum akhirnya tanah ini diambil alih oleh Karaeng Lalang untuk diubah statusnya menjadi Tanah Adat. Karaeng Lalang menukarkan tanahnya yang ada di perbukitan untuk mendapatkan tanah datar tersebut, kemudian menyerahkannya kepada Komite Pembangunan Sekolah untuk dibangun SMP dan tambahan gedung SD Negeri Tassese. Dengan sisa kekuasaan yang ada pada karaeng Lalang karena pernah menjabat sebagai kepala desa di Manuju (Ibu kota kecamatan), tanah yang awalnya milik pribadi dapat dijadikan sebagai Tanah Adat olehnya. Kini tanah datar yang luas tersebut telah menjadi milik seluruh warga desa Tassese.

Di desa Tassese dikenal adanya Tanah Adat, yakni tanah yang tidak dimiliki secara pribadi, namun dikelola oleh pemimpin secara turun temurun. Tanah adat biasanya digunakan untuk lahan pertanian. Hasil dari pertaniannya akan digunakan untuk menjamu tamu-tamu penting (maksudnya dari kalangan pemerintah) dan tamu-tamu dari luar yang datang berkunjung. Atau jika ada acara yang dilakukan oleh warga, bila memungkinkan, maka pemimpin desa akan menyumbangkan hasil pertanian dari tanah adat tersebut kepada warga. Misalnya menyumbangkan 15 liter beras untuk acara pernikahan si A, atau menyumbangkan beberapa sisir buah pisang dalam acara rapat desa. Walaupun tanah adat dikelola secara turun temurun oleh pemimpin di Tassese, namun tanah tersebut tidak dapat dimiliki secara pribadi.

Ada dua jenis Tanah Adat ini yang pertama adalah Tanah Gallarang, dan yang kedua adalah Tanah Sareang. Status sosial seseorang sebenarnya telah mengangkat status sosial orang-orang disekitarnya, bahkan rumah dan tanahnya. Ini bisa dilihat dimana kedua jenis tanah di atas memiliki kelas sosial mengikuti pengelolanya. Tanah Gallarang kelasnya lebih tinggi dan lebih luas jika dibandingkan tanah Sareang. kata “Gallarang” adalah kata untuk menunjuk pada pemimpin pemerintahan di masyarakat (sekarang setingkat Kepala Desa). Tanah Gallarang di Tassese luasnya sekitar satu sampai dengan dua hektar. Perbandingan Tanah Gallarag satu banding seperempat dari Tanah Sareang. Tanah Gallarang lebih luas mengikuti tingkatan sosial pengelolanya. Tanah Sareang lebih kecil kerena pengelolanya memiliki tingkat dalam pemerintahan lebih rendah, yakni Sareang (sekarang setingkat kepala Dusun).

“Tanah Adat bukan milik perorangan, tetapi diserahkan turun temurun kepada pemimpin berikutnya untuk dikelola”, kepala Dusun mencoba menegaskan fungsi Tanah adat. hasil dari tanah Adat pun tidak semata-mata digunakan untuk kepentingan pribadi pimpinan pemerintahan.

***

Jika melihat tekstur tanah serta ketinggiannya, desa Tassese harusnya bisa menanam sayur-sayuran di tanahnya. Namun sangat sulit mendapatkan lahan yang memendam akar-akar sayur. Bahkan sebagian besar penduduk lebih memilih untuk membeli sayur di pasar Bili-bili untuk dikonsumsi, bukan menanamnya sendiri. Pernah bercerita seorang teman dari Tombolo Pao tentang asal mula komoditas sayur pertama kali mulai digemari sebagai tanaman pertanian masyarakat. Menurutnya, awalnya disana sangat mirip di desa Tassese, dimana tanaman sayur kurang populer untuk ditanami. Hingga akhirnya datang seorang insinyur pertanian dari pulau Jawa yang mengajak masyarakat untuk menanam lebih banyak jenis sayur dan buah. Sekarang kita dapat merasakan Tombolo sebagai penghasil sayur-sayuran. Namun kata kuncinya bagi Tassese bukanlah “penghasil”, cukup mandiri dari ketergantungan mengkonsumsi sayur dari luar Tassese. Hasilkan sendiri untuk dinikmati secara mandiri, tanpa harus bergantung pada kota.

Tanah merupakan harta paling berharga bagi sebagian besar masyarakat Tassese. Luas tanah yang dimiliki tiap masyarakat pun beragam, ada yang luas tanahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ada pula yang tanahnya sangat luas seperti Tuan Takur dalam Film Hindi. Karaeng Lalang misalnya, sebagai perintis di Tassese, dia memiliki tanah yang lebih luas jika dibandingkan dengan masyarakat lain. Namun keluasan tanah turut melapangkan kearifan pula untuk saling memberi. Dengan sukarela, karaeng Lalang menukarkan tanahnya untuk dijadikan tanah adat dalam pembangunan sekolah. Kini sekolah bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Tassese hingga sekarang.[]

Oleh Agung Prabowo

Tuan Takur dan Tanah Adat Tassese (1)

Saat hujan pertama turun setelah kemarau panjang, sebagian anak buah Tuan Takur tidak sedang membayangkan keindahan air. Air yang terus memantulkan cahaya kecil dari matahari terselip sekapas awan. Air yang akan membanjiri dahaga petani kerena sejak enam bulan lalu sawah begitu menyesakkan nafas kerjanya. Air kemudian akan meresapi tanah, terus menyusupi serat akar tanaman. Aku ulangi, tidak semua anak buah Tuan Takur sedang membayangkan keindahan air yang terjun lepas dari pohon langit.

Sebagian itu sedang menghidu wangi tanah, juga aku. Wangi yang hanya mampu memanjakan indera hidung saat hujan pertama turun. Tanah bukan hanya dekat dengan kakiku yang rendah tertunduk, bahkan hidungku yang pesek, namun tetap menyombongkan keistimewaannya. Saat tubuh terjatuh oleh gundukan tanah kecil pun, aku masih begitu merendahkan tanah dengan menjauhkannya dari tubuh. Menggunakan tangan, untuk membersihkan tanah yang kuanggap kotoran bagi tubuhku. Apakah benar aku berasal dari tanah hingga begitu terasa jauh dari tanah?

Saat hidup aku membutuhkan tanah untuk berpijak, membuat rumah, bahkan menanami tumbuhan dan memelihara hewan untuk memenuhi kekosongan isi perutku jika aku lapar. Kelak, anakku juga akan seperti aku, membutuhkan banyak tanah untuk cucuku. Nanti, saat aku mati di tengah-tengah keluarga besarku, aku masih juga membutuhkan tanah untuk menyembunyikan tubuhku yang pernah merasa kotor dan menjauhi tanah.

Di sebuah tanah tidak bertuan (yang dulu bertuan), hadirlah seorang gadis cantik yang bertubuh gempal besar. Dengan menyebut satu kalimat saja, orang-orang yang pernah mengenalnya akan segera tahu itu adalah dia. Lagu Hindi. Bukan aku tidak menghendaki untuk menceritakan secara sempurna tokoh gadis ini, hanya saja sudah cukup jelas lagu Hindi akan membedakannya dari semua volunteers yang pernah mengajar di Tassese.

Pertemuan pertama Karina dengan anak-anak di Tassese adalah awal musim penghujan 2009. Dihadapan anak-anak, Karina dengan riangnya menyanyikan lagu kesayangannya. Lagu yang awalnya tidak berbekas dalam pengalaman anak-anak. Tetapi kini tidak lagi, karena lantun suara Karina yang menghibur di selah-selah proses berpengetahuan, menyisakan pengalaman unik diri Karina di hati anak-anak.

Dalam film-film Bollywood, ada beberapa kategori yang akan menghiasi ceritanya, bahkan sebuah keharusan untuk ada. Pertama adalah tarian. Tarian adalah ekspresi berwujud gerak, hasil interpretasi manusia atas alam yang terus berubah dari titik awalnya. Kedua adalah nyanyian. Begitu banyak koleksi suara yang pernah menimpali telinga manusia. Bahkan bunyi alam pun memiliki keteraturan nada yang indah. Nyanyian adalah keteraturan yang direproduksi manusia-manusia untuk saling berseni dalam komunikasinya. Ketiga adalah Tuan Takur. Tuan kejam yang memiliki tanah yang sangat luas. Entah bagaimana cerita awalnya, hingga aku akan menyebut kalimat “Tuan Takur” untuk menujuk pemilik tanah yang lebih luas dari orang-orang yang ada disekitarnya.[]

Oleh Agumg Prabowo